ujian hidup yang selalu menerpamu
yang berjuang untuk hidup yang hanya sementara
rasa perihnya hujan di hatimu
yang diberikan oleh rasa yang hanya sementara
kita hidup di dunia yang penuh tanda tanya
yang tak mungkin kau ubah dan terpaksa mengikutinya
kita berada di antara benar atau salah
yang tak mungkin dapat kau ukur dengan rasa
berdoalah, sampaikan pada Tuhan semua keluh kesahmu
Dia kan menjawabnya
percayalah, dia kan menunjukkan kasihNya padamu
melalui jalannya, percayalah
wahai kamu yang tak seperti mereka
yang terlihat cerah menjalani hidupnya
pandangan hidup yang selalu lihat ke atas saja
jadi pemicu keinginan yang tiada habisnya
bersujudlah, akui pada Tuhan semua kelemahanmu
Dia kan menguatkannya
memohonlah, Dia kan memberikan yang terbaik untukmu
melalui caraNya, percayalah
berdoalah, sampaikan pada Tuhan semua keluh kesahmu
Dia kan menjawabnya
percayalah, dia kan menunjukkan kasihNya padamu
melalui jalannya, percayalah
bersujudlah, akui pada Tuhan semua kelemahanmu
Dia kan menguatkannya
memohonlah, Dia kan memberikan yang terbaik untukmu
melalui caraNya, percayalah
Opening
Jika kata-kata sudah tak bisa mewakili perasanmu, maka menulislah.
Selasa, 27 September 2011
Kamis, 08 September 2011
Makna Simbolik, Tradisi, Bekakak
ABSTRAK
Ernst Cassier menyebut manusia sebagai â€Âanimal simbolicium†atau hewan yang bersimbol. Sebab manusia tidak dapat berinteraksi dengan seluruh alam secara langsung, tetapi melalaui berbagai simbol. Jadi simbol inilah yang menjadi medium manusia untuk memahami makna dibalik dinia yang konkrit. Simbol memang begitu erat dengan kebudayaan manusia, mungkin kita hidup digerakkan oleh simbol-simbol, sampai manusiapun disebut makluk dengan simbol-simbol atau makluk yang identik dengan simbol. Kemampuan manusia untuk mengungkapkan simbol-simbol itu disebabkan karena ia makluk berbudaya yang selalu berkomunikasi. Dapat kita katakan bahwa budaya manusia penuh diwarnai dengan simbolisme. Sepanjang sejarah budaya manusia, simbolisme telah mewarnai tindakan-tindakan manusia baik tingkah laku, bahasa, religi, maupun karyanya.
Tradisi Bekakak adalah salah satu karya manusia yang juga dipenuhi dengan simbol-simbol. Dari latar belakang diatas, penulis cukup tergelitik untuk meneliti realitas tersebut secara lebih serius, sistematis, dan terarah. Dalam bentuk penulisan skripsi , dengan harapan mampu memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai makna-makna yang terkandung dibalik keunikan simbol tersebut.
Persoalan yang menjadi fokus dari penelitian ini yaitu: Apa latarbelakang penggunaan simbol dalam Tradisi Bekakak di Gamping Yogyakarta? dan Apa makna simbol –simbol dalam konteks keselamatan yang terdapat dalam Tradisi Bekakak? Untuk mendapatkan data yang terdapat dari permasalahan tersebut diatas, penulis menggunakan metode deskriptif. Deskriptif maksudnya adalah berupaya menjelaskan, menerangkan, atau menggambarkan suatu peristiwa. Sedangkan penelitian kualitatif artinya data yang dihasilkan tidak berwujud angka-angka, melainkan berwujud pertanyaan-pertanyan.
Masyarakat Gamping dahulu mempercayai bahwa Tradisi Bekakak dan sesaji-sesaji didalamnya mengandung makna simbolik, makna simbol-simbol yang ada pada Tradisi Bekakak pada umumnya dijadikan sebagai penginggat, agar masyarakat Gamping selamat dari bahaya selama masih di dunia. Simbol-simbol yang mengandung makna pada Tradisi Bekakak antara lain: sepasang pengantin Bekakak yang mempunyai makna agar korban manusia bagi penduduk pencari batu kapur tidak terjadi lagi. Clupak yang mempunyai makna jika sesaji itu sudah dipersembahkan, maka kehidupan masyarakat akan kembali terang. Gendruwo dan Wewegombel sebagai simbol atau gambaran wujud dayang atau penghuni Gunung Gamping, kain bangun tolak yang mempunyai makna atau simbol akan bahaya atau pantangan agar dapat ditolaknya, dan masih banyak lagi makna simbol-simbol dalam Tradisi Bekakak.
Tradisi Bekakak adalah salah satu karya manusia yang juga dipenuhi dengan simbol-simbol. Dari latar belakang diatas, penulis cukup tergelitik untuk meneliti realitas tersebut secara lebih serius, sistematis, dan terarah. Dalam bentuk penulisan skripsi , dengan harapan mampu memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai makna-makna yang terkandung dibalik keunikan simbol tersebut.
Persoalan yang menjadi fokus dari penelitian ini yaitu: Apa latarbelakang penggunaan simbol dalam Tradisi Bekakak di Gamping Yogyakarta? dan Apa makna simbol –simbol dalam konteks keselamatan yang terdapat dalam Tradisi Bekakak? Untuk mendapatkan data yang terdapat dari permasalahan tersebut diatas, penulis menggunakan metode deskriptif. Deskriptif maksudnya adalah berupaya menjelaskan, menerangkan, atau menggambarkan suatu peristiwa. Sedangkan penelitian kualitatif artinya data yang dihasilkan tidak berwujud angka-angka, melainkan berwujud pertanyaan-pertanyan.
Masyarakat Gamping dahulu mempercayai bahwa Tradisi Bekakak dan sesaji-sesaji didalamnya mengandung makna simbolik, makna simbol-simbol yang ada pada Tradisi Bekakak pada umumnya dijadikan sebagai penginggat, agar masyarakat Gamping selamat dari bahaya selama masih di dunia. Simbol-simbol yang mengandung makna pada Tradisi Bekakak antara lain: sepasang pengantin Bekakak yang mempunyai makna agar korban manusia bagi penduduk pencari batu kapur tidak terjadi lagi. Clupak yang mempunyai makna jika sesaji itu sudah dipersembahkan, maka kehidupan masyarakat akan kembali terang. Gendruwo dan Wewegombel sebagai simbol atau gambaran wujud dayang atau penghuni Gunung Gamping, kain bangun tolak yang mempunyai makna atau simbol akan bahaya atau pantangan agar dapat ditolaknya, dan masih banyak lagi makna simbol-simbol dalam Tradisi Bekakak.
Asal Mula Tradisi Bekakak
Zaman dahulu kala .....Didaerah Sleman Yogyakarta terdapat sebuah bukit batu gamping. Batugamping ini oleh masyarakat sekitar dimanfaatkan untuk membuat rumah, karenakualitas yang bagus dari batu gamping ini penduduk sekitar menjualnya dan hinggahampir seluruh Pulau Jawa (pada masa itu). Sebelum digunakan batu ini diolah,adapun alat tempat pembakaran disebut tobong, maka tidak heran kalau di wilayahitu terdapat banyak tobong. Karena eksisnya batu gamping pada masa itu sekarangnama gamping ini dijadikan nama sebuah kecamatan, yaitu Kecamatan Gamping.Karena terus “diburu” batu gamping ini tinggal sedikit maka penunggu gununggamping pun marah.“ Kalian sudah mengambil batu-ku,maka kalian harus membayarnya”. Kata sangpenunggu kepada masyarakat sekitar.“ Tapi kami harus membayar dengan apa?”. Tanya seorang warga.“ Dengan sepasang pengantin!”. Jawab sang penungguMulai saat itu juga semua warga memberhentikan pengambilan batugamping. Mereka mulai memikirkan tumbal untuk sang penunggu gununggamping.“ Kita semua tentu tak ingin anak kita dikorbankan kepada penunggu gununggamping itu”. Kata ketua kampung“ Benar, tapi apa yang kita bayarkan?” Kata seorang pemuda“ Bagaimana jika kita membuat tiruannya?” Usul seorang ibu“ Baik, namun harus persis dengan aslinya.” Jawab mantap ketua kampungMereka pun membuat nya dan menyebutnya dengan nama ‘bekakak’. Untuk mengelabuhi sang penunggu gunung gamping. Bekakak ini sejenis boneka yangmenyerupai pengantin, namun terbuat dari tepung ketan yang di dalam tubuhboneka itu terdapat gula merah sebagai darahnya. Dan biasanya bekakak inidisimpan semalam di balai desa Ambarketawang, kemudian pada siang harinyadiarak menuju gunung gamping di wilayah Dusun Telaga, dan juga diiringi pawaikesenian tradisional seperti: jathilan, kuda lumping, Serta didampingi 2 patungraksasa yang disebut gendruwo. Serta gunungan yang terbuat dari hasil bumimasyarakat sekitar. Setelah sampai tempat persembahan, bekakak ini disembelihdan potongan tubuhnya dibagi-bagikan kepada semua pengunjung.Adapun tradisi bekakak ini diadakan dalam Bulan Sapar, sehingga disebutSaparan, tepatnya pada Hari Jumat Pahing. Karena sangat meriahnya acara inibanyak turis mancanegara maupun domestik , sehingga mampu untuk menaikkanjumlah pendapatan. Untuk sekarang ini bagi masyarakat /pengunjung gununggamping masih bisa melihat gundukkan batu gampingyang tingginya kurang lebih20 meter, yang dibuat sebagai cagar alam untuk melestarikannya.
Langganan:
Postingan (Atom)